Makalah MDK IAD IBD ISD


Manusia dan Kebudayaan
IAD – IBD - ISD
 





Dosen Pengampu :
Baiti Rahmawati,S.Sos.IM.Si

Penyusun :
Muhammad Sirojul Faizin       (B04219021)
Muhammad Shokhibuddin     (B04219023)
Muhammad Lukman Hakim   (B04219022)

PROGRAM STUDI MANAJEMEN DAKWAH FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA 2020






KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT. Yang telah memberikan kita nikmat serta hidayahnya sehingga kita dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik, Sholawat serta salam tetap tercurahkan kepada nabi besar Muhammad SAW. Yang telah menunjukkan kita dari jalan kegelapan menuju jalan yang terang benderang yakni Addinul Islam.
Kami ucapkan kepada Baiti Rahmawati,S.Sos.IM.Si yang telah memberikan materi dengan judul ini, karena dengan disusunnya makalah ini kami dapat lebih mendalami tentang materi yang diberikan, tak lain kami sampaikan pengetahuan kami.
Kami selaku penyusun makalah ini menyadari akan kesalahan baik dalam peulisan maupun dalam tatanan Bahasa, kami dengan senang hati menerima saran dan kritik pembaca untuk menyempurnakan makalah kami. Semoga dengan tersususunnya makalah ini bermanfaat untuk kita semua.


                                                                        Surabaya, 27 Februari 2020


                          Penyusun




Daftar Isi
Contents









.      Manusia sebagai  pencipta dan pengguna budaya

Manusia dilahirkan sebagai makhluk hidup yang paling sempurna dari pada makhluk  makhluk lainnya, karena manusia diberi oleh Allah akal, sehingga dengan adanya akal manusia dapat memenuhi segala macam kebutuhan hidupnya. Kebutuhan hidup manusia tidak pernah berhenti, hal ini menuntut manusia untuk terus berfikir bagaimana agar kebutuhannya hiduonya terpenuhi. Tujuan memenuhi kebutuhan hiduplah yang akhirnya melahirkan berbagai ciptaan dan karya manusia. Jadi pada dasarnya  manusia  menciptakan  kebudayaan  adalah  untuk  memenuhi  kebutuhan  hidupnya, karena itu manusia disebut sebagai pencipta dan pengguna kebudayaan, bahkan tidak kita sadari bahwa kadangkala manusia juga merusak kebudayaan yang telah diciptakannya itu.

Hasil ciptaan dan karya manusia antara lain melahirkan teknologi yang mempunyai kegunaan untuk membantu mempermudah manusia serta dapat melindungi manusia terhadap lingkungan alamnya. Sehingga kebudayaan memiliki beberapa peranan, yaitu :

      1.Sebagai hubungan pedoman antar manusia atau kelompoknya.
2.Wadah untuk menyalurkan perasaan-perasaan dan kemampuankemampuan lain.
3.Sebagai  pembimbing  kehidupan  dan  penghidupan  manusia,  termasuk  memenuhi kebutuhan hidupnya..
4.Pembeda antara manusia dan binatang.
5.Sebagai petunjuk tentang bagaimana manusia harus bertindak dan berperilaku didalam pergaulan.
6.Sebagai pengaturan agar manusia dapat mengerti bagaimana seharusnya bertindak, berbuat, dan lain sebagainya.
7.Menentukan sikapnya jika berhubungan dengan orang lain, sebagai modal dasar pembangunan.

Dengan demikian, manusia merupakan makhluk yang berbudaya, melalui akalnya manusia dapat mengembangkan kebudayaan. Begitu pula manusia hidup dan tergantung pada kebudayaan sebagai hasil ciptaannya. Kebudayaan juga memberikan aturan bagi manusia dalam mengolah lingkungan dengan teknologi hasil ciptaannya.
Kebudayaan mempunyai fungsi yang besar bagi manusia dan masyarakat, untuk menaklukan berbagai macam kekuatan yang harus dihadapi oleh manusia dan masyarakat seperti kekuatan alam dan  kekuatan  lain.  Selaiitu  manusia  dan  masyarakat  memerlukan  kepuasan  baisecara spiritual maupun materil.
Kebudayaan masyarakat tersebut sebagian besar dipenuhi oleh kebudayaan yang bersumber pada masyarakat itu sendiri. Hasil karya masyarakat melahirkan teknologi atau kebudayaan kebendaan   yang   mempunyai   kegunaan   utam dalam   melindung masyarakat   terhadap lingkungan didalamnya.
Dalam kaitannya untuk memenuhi segala macam kebutuhan dan tindakan untuk melindungi diri dari lingkungan alam, pada tahap permulaan manusia bersikap menyerah dan semata-mata bertindak  didalam  batas-batas  untuk  melindungi  dirinya,  namun  dengan  akal  pikirannya manusia terus berusaha. Sehingga semakin hari pemikiran manusia semakin berkembang dan masyarakat  semakin  kompleks,  kemudian lahirlah kebudayaannya  lebitinggi.  Hasil karya tersebut yaitu teknologi yang memberikan kemungkinan yang luas untuk memanfaatkan hasil alam bahkan menguasai alam.

A.   Pengaruh budaya terhadap lingkungan
Budaya  yang  dikembangkan  oleh  manusia  akan  berimplikasi  pada  lingkungan  tempat kebudayan   itu   berkembang.   Suatu   kebudayaan   memancarkan   suatu   cir khas   dari masyarakatnya yang tampak dari luar, artinya orang asing dapat   melihat ciri khas dari budaya suatu daearh atau kelompok. Dengan menganalisa pengaruh dan akibat budaya terhadap lingkungan, seseorang  dapat  mengetahui  mengapa  suatu  lingkungan  tertentu  akan  berbeda  dengan lingkungan lainnya dan menghasilkan kebudayaan yang berbeda pula.
Usaha untuk menjelaskan perilaku manusia sebagai perilaku budaya dalam kaidah dengan lingkungannya, terlebih lagi perspektif lintas budaya akan mengandung bamyak variabel yang saling berhubungan dalam keseluruhan system terbuka. Pendekatan yang saling teriring dengan psikologi  lingkungan  adalah  pendekatan  sistem  yang  melihat  rangkaian  sistemik  antara beberapa  subsistem  yang  ada  dalam  melihat  kenyataan  lingkungan  total  yang  melingkupi satuan budaya yang ada.
Beberapa variabel yang berhubungan dengan masalah kebudayaan dan lingkungan :

a.       Physical Environment, menunjuk pada lingkungan natural seperti : temperatur, curah hujan, iklim, wilayah geografis, flora dan fauna.

b.      Cultural Social Environment, meliputi aspek-aspek kebudayaan beserta proses sosialisasi seperti: norma-norma, adat istiadat, dan nilai-nilai.

c.       Environmental Orientation and Representation, mengacu pada persepsi dan kepercayaan kognitif yang berbeda-beda pada setiap masyarakat mengenai lingkungannya.

d.      Environmental Behavior and Process, meliputi bagaimana masyarakat menggunakan lingkungan dalam hubungan sosial.

e.       Out  Carries  Productmeliputi  hasil  tindakan  manusia  seperti  membangurumah, komunitas, kota beserta usaha-usaha manusia dalam memodifikasi lingkungan fisik seperti budaya pertanian dan iklim.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kebudayaan yang berlaku dan dikembangkan dalam lingkungan tertentu berimplikasi terhadap pola tata laku, norma, nilai dan aspek kehidupan lainnya yang akan menjadi ciri khas suatu masyarakat dengan masyarakat lainnya.




Adapun problematika Kebudayaan antara lain :
1.      Hambatan budaya yang berkaitan dengan pandangan hidup dan system kepercayaan. Misalnya, keterkaitan orang jawa terhadap tempat yang mereka tempati secara turun -  temurun di yakini sebagai pemberi berkah kehidupan. Mereka enggan meninggalkan kampong halamannya atau beralih pola hidup sebagai petani padahal hidup mereka umumnya miskin.

2.      Hambatan budaya yang berkaitan dengan perbedaan presepsi atau sudut pandang.
Hambatan ini dapat terjadi antara masyarakat dan pelaksana pembangunan. Contohnya program keluarga berencana atau KB semula ditolak masyarakat mereka beranggapan bahwa banyak anak banyak rezeki.

3.      Hambatan budaya berkaitan dengan psikologi atau kejiwaan.
Upaya untuk menstramigasikan penduduk dari daerah yang terkena bencana alam banyak mengalami kesulitan. 
Hal ini disebabkan karena adanya kekhawatiran penduduk bahwa ditempat yang baru hidup mereka akan lebih sengsara dibandingkan dengan hidup mereka di tempat yang lama.
4.      Masyarakat yang terasing dan kurang komunikasi dengan masyarakat luar.
Masyarakat daerah – daerah terpencil yang kurang komunikasi dengan masyarakat luar, karena pengetahuannya terbatas, seolah – olah tertutup untuk menerima program – program pembangunan.

5.      Sikap tradisionalisme yang berprasangka buruk terhadap hal – hal baru.
 Sikap ini sangat mengagung – agunkan budaya tradisional sedemikian rupa, yang menganggap hal – hal baru itu akan merusak tatanan hidup mereka. Yang sudah mereka miliki secara turun – temurun.

6.      Sikap Etnosentrisme.
Sikap etnosentrisme adalah sikap yang mengagungkan budaya sukunya sendiri dan menganggap rendah suku bangsa lain sikap semacam ini akan mudah timbulnya kasus – kasus sara, yakni pertentangan suku, agama, ras, dan antar golongan.

7.      Perkembangan IPTEK sebagai hasil dari kebudayaan.
Seringkali disalah gunakan oleh manusia, sebagai contoh nuklir dan bom dibuat justru untuk menghancurkan manusia bukan untuk melestarikan suatu generasi, obat – obatan diciptakan untuk kesehatan tetapi dalam penggunaan nya banyak di salah gunakan yang justru mengganggu kesehatan manusia.

8.      Cultural Shock atau gagap budaya.
Apabila manusia tidak bisa menyesuaikan atau beradaptasi dengan budaya lain,sehingga menimbulkan keraguan dan kecanggungan.


Kebudayaan ataupun yang disebut peradaban, mengandung pengertian yang luas meliputi pemahaman perasaan suatu bangsa yang kompleks. Meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat – istiadat (kebiasaan). Dan pembawaan lain nya yang diperoleh dari anggota masyarakat (Taylor 1897).[1]
Para ahli banyak yang menyelidiki berbagai kebudayaan, dari hasil penyelidikan tersebut timbul dua pemikiran tentang munculnya suatu kebudayaan atau peradaban. Pertama anggapan bahwa adanya hukum pemikiran atau perbuatan manusia. Kedua, kebudayaan muncul sebagai akibat taraf perkembangan dan hasil evaluasi proses sejarahnya. Demikian pula proses sajarah bukan hal yang mengikat, tetapi merupakan kondisi ilmu pengetahuan, agama, seni, ada – istiadat dan kehendak masyarakat.
            Adapun teori kebudayaan yang diajukan oleh Hercovits dalam bukunya yang berjudul Man and His work tentang teori kebudayaan yaitu :
1.      Kebudayan dapat dipelajari
2.      Kebudayaan berasal atau bersumber dari segi biologis, lingkungan, psikologis, dan komponen sejarah eksistensi manusia.
3.      Kebudayaan mempunyai struktur
4.      Kebudayaan dapat dipecah – pecah ke dalam berbagai aspek
5.      Kebudayan bersifat dinamis
6.      Kebudayaan mempunyai variable
7.      Kebudayaan memperlihatkan keteraturan yang dapat di analisis dengan metode ilmiah
8.      Kebudayaan merupakan alat bagi seseorang untuk mengatur keadaan totalnya dan menambah arti bagi kesan kreatifnya
Pengertian kebudayaan yang dikemukakakn oleh E.B. Taylor maupun dalill yang di kemukakan oleh Herkovits masih bersifat luas sehingga pengkajian kebudayaan saling bervariasi. Kroeber dan Kukhon (1950), mengajukan konsep kebudayaan sebaagai kupasan kritis dari definisi – definisi kebudayaan yang mendekati. Definisinya adalah Kebudayaan terdiri dari atas berbagai pola, bertingkah laku mantap, pikiran, perasaan, dan reaksi yang diperolah dan pertama diturunkan oleh symbol- - symbol yang menyusun pencapaian nya, secara tersendiri dari kelompok – kelompok manusia, termasuk didalamnya benda – benda materi. Pusat esensi kebudayaan terdiri atas tradisi cita – cita atau paham, dan terutama keterikatan terhadap nilai – nilai.

Untuk dapat memahami ilmu budaya dasar yang merupakan perpaduan beberapa pengertian, konsep, atau teori pengetahuan budaya, bila perlu terlebih dahalu mempelajari kerangka kebudayaannya sendiri. Sebab apa yang dikatakan difinisi, pengertian, atau teori tentang pengetahuan budaya, semuanya merupakan komponen dari susunan suatu ilmu, yang tidak dapat melepaskan diri dari objek materi dan objek formal suatu ilmu.
Untuk memudahkan dalam dialektika tentang kebudayaan yang wawasannya begitu luas, perlu dipahami terlebih dahulu tentang kerangka kebudayaan, yang meliputi konsep kebudayaan, wujud, unsur kebudayaan, system budaya, sistem sosial, kebudayaan fisik, dan pengertian lainnya.[2] Demikian pula dalam observasi ilmiah terkadang sulit untuk membatasi dan memusatkan perhatian kepada suatu gejala. Akan tetapi sering dalam prakteknya suatu kegiatan ilmiah mengandung banyak nuansa yang tidak jelas sudut pandangannya (persepsinya).

Menurut Koentjaraningrat (1980), kebudayaan berasal dari kata Sansekerta budhayah. Yaitu bentuk jamak dari budhi,yang artinya “budi” atau “akal”. Kebudayaan dapat diartikan “hal – hal yang bersangkutan dengan akal”. Sedangkan kata “budaya” merupakan perkembangan majemuk dari “budi daya” yang berarti “daya dari budi” sehingga dibedakan antara “budaya” yang berarti “daya dari budi” yang berupa cipta, karsa dan rasa.
Dalam disiplin ilmu Antropologi budaya.kebudayaan dan budaya itu artinya sama saja. Menurut dimensi wujudnya kebudayaan mempunyai tiga wujud yaitu:
1.      Kompleks gagasan
 konsep dan pikiran manusia wujud ini disebut sistem budaya yang sifatnya abstrak atau tidak dapat dilihat dan berpusat pada kepala – kepala manusia yang menganutnya.
2.      Kompleks aktivis
Berupa aktivitas manusia yang saling berinteraksi yang bersifat kongkret dapat di amati atau di observasi. Sistem sosial ini tidak dapat melepeskan diri dari sistem budaya, karena saling berinteraksi manusia maka pola aktivitas dapat mula menimbulkan gagasan, konsep, dan pikiran baru. Serta tidak mustahil dapat diterima dan mendapat tempat dalam sistem budaya dari manusia yang berinteraksi tersebut.
3.      Wujud sebagai benda
Aktivitas manusia yang saling berinteraksi dari berbagai penggunaan peralatan untuk mencapai tujuannya. Aktivitas karya manusia tersebut dapat menghasilkan benda untuk berbagai keperluan hidupnya.

Unsur – unsur kebudayaan meliputi semua kebudayaan di dunia, menurut konsep B. Malinowski kebudayaan didunia mempunyai tujuh unsur universal yaitu :
1.      Bahasa
2.      Sistem teknologi
3.      Sistem mata pencaharian
4.      Organisasi sosial
5.      Sistem pengetahuan
6.      Religi
7.      Kesenian

Kerangka kebudayaan merupakan dimensi analisis dari konsep kebudayaan yang dikombinasikan ke dalam suatu bagan lingkaran. Sistem budaya digambarkan dalam lingkaran yang paling dalam dan merupakan inti, sistem sosial dilambangkan dengan lingkaran kedua disekitar inti. Sedangkan kebudayaan fisik dilambangkan dengan lingkaran yang paling luar.
Maka terlihat jelas bahwa tiap unsur kebudayaan yang universal itu dapat mempunyai tiga wujud kebudayaan, yaitu sistem budaya, sistem sosial, dan kebudayaan fisik.[3]
Sistem sosial dan sistem budaya merupakan sistem – sistemyang secara analisis dapat dibedakan. Sistem sosial lebih banyak dibahas dalam kajian sosiologi, sedangkan sistem budaya banyak di kaji dalam disiplin pengetahuan budaya. Jadi istilah sistem ini dapat dipakai berbagai cara, fenomena, undang – undang, dan lain – lain.
Definisi sitstem yang memadai sulit di rumuskan, mengingangat dalam sistem banyak terkandung unsur – unsur secara sistem. Secara sederhana sistem diartikan sebagai kumpulan bagian –bagian yang bekerja bersama – sama untuk melakukan satu maksud, adapun sistem itu memiliki sepuluh ciri yaitu :
1.      Fungsi ( Function )
2.      Satuan ( Unit )
3.      Batasan ( Boundary )
4.      Bentuk ( Strukture )
5.      Lingkungan ( Enviroment )
6.      Hubungan ( Relation )
7.      Proses ( Process )
8.      Masukan ( Input )
9.      Keluaran ( Output )
10.  Pertukaran ( Exchange )

Dengan kesepuluh ciri sistem ini mempermudah seseorang dalam menganalisis suatu sistem menurut prespektif  tertentu seperti sistem sosial atau sistem budaya.[4]

Sistem budaya atau Cultural System  merupakan ide – ide dan gagasan manusia hidup bersama dalam suatu masyarakat. Dengan demikian sistem budaya adalah dari kebudayaan yang diartikan pula adat istiadat. Adat – istiadat mencakup sistem nilai budaya, sistem norma, norma – norma menurut pranata – pranata yang ada didalam masyarakat yang bersangkutan termasuk norma agama.
            Proses ini dimulai sejak kecil dimulai dari lingkungan keluarganya, kemudian dengan lingkungan di luar rumah, mula – mula dengan meniru berbagai macam tindakan. Tetapi ada juga individu yang dalam proses pembudayaan tersebut yang mengalami Deviants, artinya individu yang dapat menyesuaikan dirinya dengan sistem budaya di lingkungan sekitarnya.


 Teori sistem sosial pertama kali diperkenalkan oleh seorang sosiologi Amereika, Talcot Parsons. Konsep sistem sosial merupakan konsep relasional sebagai pengganti konsep eksistensional prilaku sosial. Konsep sosial adalah alat pembantu untuk menjelaskan tentang kelompok – kelompok manusia.
            Tiap –tiap sistem sosial terdiri atas prilaku tertentu yang mempunyai struktur dalam dua arti, yaitu : pertama relasi – relasi sendiri antara orang – orang bersifat agak mantap dan tidak cepet berubah. Kedua prilaku – prilaku mempunyai corak atau bentuk yang relatif mantap. Kesemuanya saling mengkait satu sama lain dalam kebudayaan yang saling menguntungkan. Dalam dua sistem sosial, paling tidak terdapat empat hal yaitu :
1.      Dua orang atau lebih.
2.      Terjadi interaksi diantara mereka.
3.      Bertujuan
4.      Memiliki sturktur, symbol, dan harapan- harapan bersaama yang di pedomaninya.
Lebih lanjut parsons mengatakan bahwa sistem sosial tersebut dapat berfungsi apabila dapat memenuhi empat persyaratan fungsional yaitu :
1.      Adaptasi menunjuk pada keharusan bagi isitem – sistem sosial untuk menghadapi lingkungan nya.
2.      Mencapai tujuan, merupakan persyaratan fungsional  dengan bahwa tindakan itu di arahkan pada tujuan – tujuannya (bersama sistem sosial).
3.      Integrasi, merupaka persyaratan yang berhubungan dengan interelasi antara para anggota dalam sistem sosial.
4.      Pemeliharaan pola – pola tersembunyi, konsep latensi ( latency ), pada berhentinya interaksi akibat keletihan dan kejenuhan sehingga tunduk pada sistem sosial lainnya yang mungkin terlibat.
Model persyaratan fungsional Parsons ini dapat digunakan untuk menganalisis interaksi di antara pola – pola institusional utama di sistem – sistem sosial yang lebih besar. Sistem – sistem sosial terdiri atas interaksi  sosial .
Unsur – unsur tersebut membentuk sistem sosial itu sendiri dan mengandung sistem sosial. Adapun unsur – unsur sistem sosial tersebut ada sepuluh, yaitu :
1.      Keyakinan ( pengetahuan ).
2.      Perasaan ( sentiment ).
3.      Tujuan, sasaran atau cita – cita.
4.      Norma.
5.      Kedudukan peranan ( status ).
6.      Tingkatan atau pangkat ( rank ).
7.      Kekuasaan atau pengaruh ( power ).
8.      Sangsi.
9.      Sarana atau fasilitas.
10.  Tekanan, ketegangan.[5]



Kajian ilmu budaya dasar adalah nilai – nilai dasar manusia. Oleh karena itu, dalam proses pengkajiannya permasalahan nilai tersebut perlu terlebih dahulu di mengerti dan di pahami. Hal ini yang penting bahwa nilai merupakan unsur penting dalam kehidupan manusia.
Oleh karena itu, nilai – nilai ini sangat luas dan dapat di temukan pada perilaku yang terpilih dalam berbagai kehidupan yang luas di alam semesta ini. Dengan mengerti ketiga pembicaraan ini diharapkan seseorang dapat mengapresiasi betapa penting nya nilai bagi kehidupannya mengetahui proses dan mekanisme nilai dalam kehidupan serta dapat berperan dalam menentukan orientasi nilai budaya yang baik.

Batasan nilai dapat mengacu kepada berbagai hal seperti minat, kesukaan, pilihan, tugas, kewajiban agama, kebutuhan, keagamaan, hasrat, keengganan, atraksi (daya tarik ), dan hal –hal lain yang berhubungan dengan perasaandari orientasi seleksinya. Akan tetapi, segala sesuatu yang nilainya manifestasi perilaku reflex atau hasil proses kimia di dalam tubuh, itu bukan nilai. Rumusan nilai dapat diperluas dan dipersempit. Sebagai bahan perbandingan dan untuk menambah wawasan pengertian tentang nilai, ada beberapa pendapat sebagai berikut :
a)      Pepper mengatakan bahwa nilai adalah segala sesuatu tentang yang baik atau yang buruk
b)      Perry mengatakan bahwa nilai adalah segala sesuatu yang menarik bagi manusia sebagai objek
c)      Kohler mengatakan bahwa manusia tidak berbeda di dunia ini, semua tidak dapat berhenti hanya dengan sebuah pandangan factual dari pengalaman yang berlaku
d)     Kluckhon mengatakan bahwa definisi nilai yang diterima sebagai konsep yang diinginkan dalam literatur ilmu sosial adalah hasil seleksi perilaku. Batasan nilai sempit adalah adanya suatu perbedaan penyusunan antara apa yang dibutuhkan dan apa yang diinginkan dengan apa yang seharusnya dibutuhkan, nilai – nilai tersusun secara hierarkis dan mengatur rangsangan kepuasan hati dalam mencapai tujuan kepribadiannya.
Dari berbagai pendapat tentang nilai ini dapat ditemukan sebuah batasan nilai (tentative) yaitu nilai adalah sesuatu yang baik atau yang buruk sebagai abstraksi, pandangan, atau maksud dari berbagai pengalaman dengan seleksi perilaku yang ketat. Batasan ini bersifat universal, tetapi untuk suatu maksud pembicaraan tertentu dapat mengacu kepada salah satu batasan sebelumnya. Sebagai contoh pengertian nilai sosial dikemukakan oleh Alfin L. Bertrand, nilai sosial adalah suatu kesadaran dan emosi yang relatif lestari terhadap suatu objek, gagasan, atau orang. Pengertian nilai sosial ini, bila dikaitkan dengan batasan sebelumnya, maknanya akan berhubungan.
Untuk mendapat suatu rumusan yang jelas, Robin M. Williams mengemukakan bahwa ada empat buah kualitas tentang nilai – nilai, yaitu :
1.      Nilai – nilai mempunyai sebuah elemen konsepsi yang lebih mendalam dibandingkan dengan hanya sekedar sensasi, emosi atau kebutuhan
2.      Nilai – nilai menyangkut atau penuh dengan semacam pengertian yang memiliki suatu aspek emosi
3.      Nilai – nilai bukan merupakan tujuan kongkret dari tindakan, tetapi mempunyai hubungan dengan tujuan, sebab nilai – nilai berfungsi sebagai kriteria dalam memiliki tujuan – tujuan.
4.      Nilai – nilai merupakan unsur – unsur penting, dan tidak dapat disepelekan bagi orang yang bersangkutan. Dalam kenyataan, nilai – nilai berhubungan dengan pilihan, dan pilihan merupakan prasyarat u8ntuk mengambil suatu tindakan.[6]
Jenis – jenis nilai, menurut intensitasnya, ada yang disebut nilai – nilai yang tercernakan dan nilai – nilai yang domina. Nilai – nilai yang tercernakan (internalized values) merupakan suatu landasanbagi reaksi yang diberikan secara otomatis terhadap situasi – situasi tingkah laku eksistensi, sedangkan nilai – nilai tercernakan tidak dapat dipisahkan dari si individu serta membentuk landasan bagi hati nuraniny. Apabila terjadi pemerkosaan terhadap nilai – nlai tersebut, maka akan timbul perasaan malu atau bersalah yang sulit untuk dihapus. Nilai yang tercernakan bagi individu – individu artinya individu itu menghayati atau menjiwai suatu nilai sehingga ia akan memandang keliru pola perilaku yang tidak sesuai dengan nilai tersebut.
Nilai –nilai yang dominan artinya nilai – nilai yang lebih diutamakan daripada nilai – nilai lain. Fungsi nilai dominan ialah sebagai suatu latar belakang atau kerangka patokan bagi tingkah laku sehari hari. Kriteria apakah suatu nilai itu dominan, ditentukan oleh hal – hal sebagai berikut :
1.      Luas tidaknya ruang lingkup pengaruh nilai tersebut dalam aktivitas total dari sistem sosial.
2.      Lama tidaknya pengaruh nilai itu dirasakan oleh kelompok masyarakat
3.      Gigih tidaknya (intensitas) nilai tersebut diperjuangkan atau dipertahankan
4.      Prestise orang – orang yang menganut nilai, yaitu orang atau organisasai yang dirancang sebagai pembawa nilai.

Memahami nilai akan lebih jelas apabila dilanjutkan dengan mempelajari tentang watak nilai. Dengan memahmai watak nilai atau etos nilai, diharapakan seseorang akan mengetahui apa yang harus diperbuatnya untuk menjadi manusia dalam arti sepenuhnya. Hal ini ialah bahwa nilai itu sendiri mempunyai dasar pembenaran atau sumber pandangan dari berbagai hal seperti metafisika, teologi, etika, estetika, dan logika. Pembicaraan mengenai watak nilai ini mencakup pertimbangan – pertimbangan nilai, pembenaran nilai, pilihan nilai, dan konflik nilai.[7]
Mempertimbangkan nilai adalah kebiasaan sehari – hari bagi kebanykan orang, serta dilakukan secara terus – menerus. Mempertimbangkan untuk mengadakan pilihan tentang nilai adalah suatu keharusan. Dalam kehidupannya manusia terpaksa mengadakan pilihan, mengukur benda dari segi yang lebih baik atau yang lebih jelek, dan memberikan formulasi tentang ukuran nilai. Setiap individu mempunyai perasaan tentang nilai, dan tak pernah ada suatu masyarakat tanpa sistem nilai. Jika seseorang tidak melakukan pilihannya tentang nilai, maka orang lain atau kekuatan luar akan mentaokan pilihan nilai untuk dirinya.
Bidang yang berhubungan dengan nilai adalah etika (penyelidikan nilai dalam tingkah laku manusia) dan estetika (penyelidikan tentang nilai dalam seni). Nilai dalam masyarakat tercakup dalam adat kebiasaan dan tradisi, yang secara tidak sadar diterima dan dilaksanakan oleh anggota masyarakat. Di dalam masyarakat yang secara tepat mengalami perubahan, nilai menjadi bahan pertentangan.


Pertimbangan nilai berbeda dengan pertimbangan fakta. Pertimbangan fakta hanyalah merupakan pernyataan deskriptif tentang kualitas empiris atau hubungan.
Konsep sistem – sistem nilai budaya bermacam macam yang menunjukan bahwa macam - macam nilai dapat mengandung suatu model menyeluruh untuk deskripsi dan studi perbandingan. Diasumsikan bahwa perbedaan macam – macam dan tingkat – tingkat nilai aturan – aturan khusus atau umum, cita – cita, norma –norma, kriteria lainnya dapat sikap mengatur, penilaian dan sanksi – sanksi semuanya menyusun nilai sistem budaya yang kompleks.
Demikian pula ditempat yang satu atau yang lainnya berbeda. Akan tetapi, pada waktu yang sama variasi – variasi nilai yang dianut ini mempunyai hubungan tertentu dengan suatu tema normatif. Menurut Alvin L. Bertrand, merupaka nlandasan bagi cara pendekatan sistem nilai didalam penyelidikan terhadapa nilai –nilai masyarakat.
Karena itu, suatu sistem nilai budaya berfungsi sebagai pedoman tertinggi sebagai pedoman manusia ( Koentjaranigrat, 1981). Sistem nilai budaya itu demikian kuatnya meresap dan berakar didalam jiwa masyarakat sehingga sulit diganti atau diubah dalam waktu yang singkat. Sistem nilai budaya didalam masyarakat menyangkut masalah – masalah pokok bagi kehidupan manusia.[8]
Oleh karea itu, mungkin saja nilai – nilai inti tertentu dapat berbeda atau bertentangan dengan nlai –nilai yang lain.Suatu bangsa mempunyai orientasi nilai – nilai tertentu. Akan tetapi, secara universal orientasi nilai budaya ini telah disusun kerangkanya oleh seorang Antropolog bernama Kluckhohn ( atau dalam Variations In Value Orientation, 1961).
Secara universal nilai budaya menyangkut lima masalah pokok kehidupan manusia yaitu :
1.      Hakikat hidup manusia(MH)
Hakikat hidup untuk setiap kebudayaaan berbeda secara ekstrim, ada yang berusaha untuk memadamkan hidup, ada pula degan pola –pola tertentu mennganggap hidup sebagai suatu yang berat “mengisi hidup”.
2.      Hakikat karya manusia (MK)
Setiap kebudayaan hakikatnya berbeda beda ada yang beranggapan bahwa karya bertujuan hidup, karya memberikan kedudukan atau kehormatan, karya merupakan gerakan hidup unutk menambah karya lagi

3.      Hakikat waktu manusia (MW)
Hakikat waktu untuk setiap kebudayaan berbeda, ada yang berpandangan mememntingkan orientasi masa lampau, ada pula yang berpandangan masa kini atau masa yang akan dating.
4.      Hakikat alam manusia (MA)
Kebudayaan yang menganggap manusia harus mengeksploitasi alam atau memanfaatkan alam semaksimal mungkin, adapula kebudayaan yang beranggapan bahwa manusia harus harmonis dengan alam dan manusia harus menyerah kepada alam.
5.      Hakikat hubungan manusia (MM)
Dalam hal ini, ada yang mementingkan hubungan manusia dengan manusia baik secara horizontal (sesamanya) maupun secara vertical (orientasi kepada tokoh – tokoh. Ada pula yang berpandangan Individualistis (menilai tinggi kekuatan sendiri).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hakikat hidup sudah mempunyai pandangan (meminjam konsep Kluckhohn). Demikian pula hakikat kerja berpandangan bahwa karya itu nafkah hidup dan kehormatan. Pandangan ini menunjukkan terarah kepada diri sendiri tidak berorientasi keluar. Pandangan semacam ini sering disebut Stoic :gelap, keras, dan suram, sebagai akibat kecenderungan untuk berputar putar dalam dirinya sendiri.

Sistem – sistem nilai di Amerika telah diteliti oleh Williams (1960) adanya informasi orientasi nilai – nilai yang dianut oleh warganya yaitu :
1)      Hasil usaha dan keberhasilan dipentingkan oleh pribadi
2)      Menekankan pada aktivitas dan pekerjaan
3)      Memandang dunia dari segi moral
4)      Mementingkan mores atau adat istiadat kemanusiaan
5)      Menghargai efisiensi dan kepraktisan
6)      Optimisme ke masa depan atau kemajuan
7)      Berorientasi kepada materi
8)      Berkeyakinan pentingnya persamaan derajat
9)      Menghargai kebebasan
10)  Menyesuaikan diri kepada dunia luar
11)  Mementingkan segi rasio dan ilmu pengetahuan
12)  Memiliki patriotism
13)  Berkeyakinan terhadap demokrasi
14)  Berkepribadian individualistic
15)  Mempunyai tema rasional dan superioritas kelompok
Maka dalam memahami nilai – nilai dasar manusia kita dapat dengan sekaligus memberi “cap” tentang watak dan kompleksitas nilai – nilai dasar.


a.      Cultural lag
Cultural Lag adalah perbedaan antara taraf kemajuan berbagai bagian dalam kebudayaan suatu masyarakat. Artinya ketinggalan kebudayaan yaitu selang waktu saat benda itu diperkenalkan pertama kali dan saat benda itu di terima secara umum sampai masyarakat dapat menyesuaikan diri terhadap benda tersebut.




b.      Curtural survival
Istilah ini ada sangkut pautnya dengan cultural lag karena mengandung pengertian adanya suatu cara tradisional yang tak pernah mengalami perubahan sejak zaman dahulu sampai sekarang. Cultural Survival adalah konsep lain yang dipakai untuk menbggambarkan suatu praktek yang telah kehilangan fungsi penting nya seratus perse, yang tetap hidup dan berlaku semata – mata hanya diatas landasa adat – istiadat. Jadi pergantian Lag  dapat dipergunakan paling sedikit dalam dua arti yaitu :
1.      Jangka waktu antara terjadinya penemuan baru diterimanya penemuan baru tadi.
2.      Adanya perubahan dalam pikiran manusia dari alam pikiran tradisional ke alam pikiran modern.
c.       Pertentangan Kebudayaan ( Cultural Conflic)
Hal ini terjadi akibat konflik langsung antar kebudayaan, faktor – faktor yang menimbulkan konflik kebudayaan adalah keyakinan – keyakinan yang berbeda berhubungan dengan masalah aktivitas berbudaya.
d.      Guncangan Kebudayaan ( culture shock )
Istilah ini di kemukakan oleh Kalervo Oberg (1958) untuk menyatakan apa yang disebutnya sebagai suatu penyakit jabatan orang – orang yang tiba – tiba di pindahkan ke dalam suatu kebudayaan yang berbeda dari kebudayaan nya sendiri. Hal ini akibat kecemasan, karena orang itu kehilangan tanda – tanda atau lambang – lambang pergaulan sosial yang sudah di kenal nya dengan baik.
            Adapun empat tahap yang membentuk siklus Culture Shock :
1.      Tahap inkubasi, kadang – kadang disebut tahap bulan madu sebagai suatu pengalaman baru yang menarik.
2.      Tahap krisis, ditandai dengan suatu perasaan dendam pada saat inilah terjadi korban Culture Shock
3.      Tahap kesembuhan, korban mampu melampui tahap kedua hidup dengan damai.
4.      Tahap penyesuaian diri, sekarang orang tersebut sudah membanggakan suatu yang di lihat dan dirasaknnya dalam kondisi baru itu rasa cemas dalam dirinya sudah berlalu.


Hubungan manusia, masyarakat, budaya dan agama Manusia adalah makhluk sosial, artinya makhluk yang selalu membutuhkan kawan atau- pun membutuhkan bantuan orang lain dalam menjalani kehidupannya sehari-hari, hal ini sudah menjadi sunatullah dari sang pencipta alam semesta.[9] Dalam kehidupan manusia, ada beberapa aspek yang sangat disakral oleh suatu golongan masyarakat, salah satunya adalah masalah agama dan budaya. Agama dan kebudayaan adalah dua hal yang sangat dekat di masyarakat.
Bahkan ada sebagian masyarakat mengartikan bahwa agama dan kebudayaan adalah satu kesatuan yang utuh. Sebenarnya, agama dan kebudayaan mempunyai kedudukan masing-masing dan tidak dapat disatukan, karena agamalah yang mempunyai kedudukan lebih tinggi dari pada kebudayaan. Namun keduanya mempunyai hubungan yang erat dalam kehidupan masyarakat.
Geertz mengatakan bahwa wahyu membentuk suatu struktur psikologis dalam benak manusia yang membentuk pandangan hidupnya, yang menjadi sarana individu atau kelompok individu yang mengarahkan tingkah laku mereka. Tetapi wahyu bukan saja menghasilkan budaya immaterial, tetapi juga dalam bentuk seni suara, ukiran, bangunan.37 Perdebatan sebagaimana yang terjadi di atas bukan saja terjadi dalam masyarakat, bahkan para ahlipun mempunyai pendapat yang berbeda dalam memberikan pandangan terkait masalah agama dan budaya.[10]
 Para ahli tersebut misalnya, Hegel, keseluruhan karya sadar insani yang berupa ilmu, tata hukum, tatanegara, kesenian, dan filsafat tak lain daripada proses realisasidiri dari roh ilahi. Sebaliknya sebagian ahli, seperti Pater Jan Bakker, dalam bukunya “Filsafat Kebudayaan” menyatakan bahwa tidak ada hubungannya antara agama dan budaya, karena menurutnya, bahwa agama merupakan keyakinan hidup rohaninya pemeluknya, sebagai jawaban atas panggilan ilahi. Keyakinan ini disebut Iman, dan Iman merupakan pemberian dari Tuhan, sedang kebudayaan merupakan karya manusia. Sehingga pendapat para ahli ini dapat diklasifikasikan sebagai berikut ; 38 1) Kelompok pertama menganggap bahwa Agama merupakan sumber kebudayaaan atau dengan kata lain bahwa kebudayaan merupakan bentuk nyata dari agama itu sendiri. Pendapat ini diwakili oleh Hegel. 2) Kelompok kedua, yang di wakili oleh Pater Jan Bakker, menganggap bahwa kebudayaan tidak ada hubungannya sama sekali dengan agama. 3) Kelompok ketiga, menganggap bahwa agama merupakan bagian dari kebudayaan itu sendiri. Perlu kiranya untuk kita ketahui secara bersama bahwa Islam mendorong manusia untuk berbudaya, tentu berbudaya yang dimaksud adalah berbudaya sesuai syariat Islam. Sebelum datangnya ajaran Islam di muka bumi ini, sudah ada kebudayaan 37 Baihaqi Annizar, Hubungan agama dan budaya, http:// baihaqi-annizar.blogspot.co.id/2015/03/hubungan-agama-dan- kebudayaan.html, dikutip 04-12-2016, pukul 04:50 WIB. 38 Nata Abdullah, Metodologi Studi Islam,(Jakarta: PT Raja Grafindo Persadaa,2004) h.62 Zulkarnain Dali: Hubungan Antara Manusia, Masyarakat, dan Budaya 55 yang telah berkembang sebelumnya.
Tentu dari kebudayaan tersebut ada yang mengandung ke- baikan dan ada yang mengandung keburukan atau kebatilan. Adat istiadat dan tradisi yang dilakukan oleh suatu masyarakat bisa juga mengandung unsur kebaikan pada sisi kehidupan manusia, yang tidak ada nash agamanya, kecuali pengarahan terhadap tujuan yang umum. Ketika itulah peran akal melakukan ijtihad untuk mencari kehendak Ilahi, dalam segala hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia.
Mungkin bisa dikatakan bahwa adat istiadat atau kebudayaan ataupun tradisi yang kebaikannya adalah kehendak Ilahi, ia dapat dianggap sebagai hukum agama yang disandingkan dengan tatanan agama secara menyeluruh, meliputi berbagai bidang kehidupan. Pada saat itulah kenyataan hidup berperan dalam memahami agama berdasarkan tradisi yang baik. Ia dianggap sebagai bagian agama ketika tidak ada nash yang berkaitan dengannya, dan ketika tidak bertentangan dengan nash yang ada.39 Islam dan kebudayaan memiliki keterkaitan antara yang satu dengan yang lain. Ajaran Islam memberikan aturan-aturan yang sesuai dengan kehendak Allah SWT, sedangkan kebudayaan adalah realitas keberagamaan umat Islam.[11]
 Kebudayaan dapat pula digunakan untuk memahami agama yang terdapat pada tataran agama yang tampil dalam bentuk formal yang menggejala di masyarakat. Pengamalan agama yang terdapat di masyarakat tersebut adalah hasil penalaran para penganut agama dari sumber agama yaitu wahyu. Salah satu contohnya yaitu ketika kita membaca kitab fiqih, kitab fiqih tersebut merupakan pelaksanaan dari nash Al-quran maupun hadist yang melibatkan penalaran dan kemampuan manusia. Pelaksanaan fiqih dalam kehidupan sehari-hari itu berkaitan dengan kebudayaan yang berkembang di masyarakat tempat agama tersebut berkembang. Dengan pemahaman terhadap kebudayaan tersebut seseorang akan dapat mangamalkan ajaran agama tersebut.40 Didalam ajaran agama Islam ada beberapa jenis kebudayaan, antara lain sebagai berikut; 41 1) Kebudayaan yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam 39 Al-majid,PemahamanIslam antara rakyu dan wahyu, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 1997) h.73. 40 Nata Abdullah, Metodologi Studi Islam,(Jakarta:PT Raja Grafindo Persadaa,2004) h.49 41 Endar Wismulyani, Jejak Islam di Nusantara, Cet 1,(Klaten: Cempaka Putih,2008), h.46-47 Hal ini sebagai yang disebut pada kaidah fiqh yaitu “ al adatu muhkamatun “ artinya “adat kebiasaan dapat dijadikan sebagai hukum” bahwa adat istiadat dan kebiasaan suatu masyarakat, yang merupakan bagian dari budaya manusia.
 Mempunyai pengaruh di dalam penentuan hukum. Tetapi perlu diingat, kaidah tersebut hanya berlaku pada hal yang belum ada nashnya dalam al-quran maupun sunnah Rasul. 2) Akulturasi kebudayaan Adapun maksud dari akulturasi kebudayaan di atas adalah, bahwa ada tradisi masyarakat yang bertentangan dengan ajaran Islam, namun tradisi tersebut tetap dilaksanakan tetapi dimasukan ajaran Islam. Misalnya, melaksanakan upacara tujuh hari orang me- ninggal ataupun empat puluh hari orang meninggal. Upacara semacam itu tidak ada tuntunannya dalam Islam, tetapi Islam mencoba merekonstruksi upacara-upacara tersebut agar menjadi lebih Islami, yaitu dengan pembacaan kitab suci Alquran pada saat pelaksanaan upacara-upacara tersebut. Sehingga acara tersebut bisa bernilai ibadah. 3) Kebudayaan yang bertentangan dengan syariat Islam Kebudayaan yang bertentangan sebagaimana yang disebutkan pada point ketiga di atas kebudayaan yang mana nash atau dalilnya tidak terdapat dalam al-quran maupun sunnah Rasul, tradisi itu juga bertentangan norma, hukum, adat, sopan santun dan menimbulkan keresahan dalam kehidupan masyarakat.
 Misalnya, melakukan kegiatan perjudian dan mabuk-mabukan pada suatu hajatan. Beberapa uraian dan contoh yang telah di- sampaikan di atas merupakan sebagian kebudayaan yang bertentangan dengan ajaran Islam, sehingga umat Islam tidak dibolehkan mengikutinya. Islam melarangnya, karena kebudayaan seperti itu merupakan kebudayaan yang tidak mengarah kepada kemajuan adab, dan persatuan, serta tidak mempertinggi derajat kemanusiaan serta akan menimbulkan kerusuhan dan konflik dalam kehidupan masyarakat.



DAFTAR PUSTAKA

[1] M.Munandar Sulaiman, Ilmu Budaya Dasar Suatu Pengantar           ( Bandung : PT Refika Aditama,1998). 14

https://ejournal.iainbengkulu.ac.id/index.php/nuansa/article/viewFile/373/320





[1] M.Munandar Sulaiman, Ilmu Budaya Dasar Suatu Pengantar ( Bandung : PT Refika Aditama,1998). 10
[2] M.Munandar Sulaiman, Ilmu Budaya Dasar Suatu Pengantar           ( Bandung : PT Refika Aditama,1998). 12
[3] M.Munandar Sulaiman, Ilmu Budaya Dasar Suatu Pengantar           ( Bandung : PT Refika Aditama,1998). 14
[4] M.Munandar Sulaiman, Ilmu Budaya Dasar Suatu Pengantar           ( Bandung : PT Refika Aditama,1998). 15
[5] M.Munandar Sulaiman, Ilmu Budaya Dasar Suatu Pengantar           ( Bandung : PT Refika Aditama,1998). 18
[6] M.Munandar Sulaiman, Ilmu Budaya Dasar Suatu Pengantar           ( Bandung : PT Refika Aditama,1998). 18-20
[7] M.Munandar Sulaiman, Ilmu Budaya Dasar Suatu Pengantar           ( Bandung : PT Refika Aditama,1998). 21
[8] M.Munandar Sulaiman, Ilmu Budaya Dasar Suatu Pengantar           ( Bandung : PT Refika Aditama,1998). 26
[9] https://ejournal.iainbengkulu.ac.id/index.php/nuansa/article/viewFile/373/320
[10] https://ejournal.iainbengkulu.ac.id/index.php/nuansa/article/viewFile/373/320
[11] https://ejournal.iainbengkulu.ac.id/index.php/nuansa/article/viewFile/373/320

Komentar

  1. Alhamdulillah semakin bertambah wawasan saya dengan membaca ini, terima kasih dan sukses selalu

    BalasHapus
  2. Terimakasih banyak ya ilmu barunya semoga bermanfaat

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah makalah sangat mudah dipahami dan sangat menambah wawasan

    BalasHapus
  4. Alhamdulillah makalah ini dapat menambah wawasan saya , makalah ini sangat berguna sekali untuk para pembacanya

    BalasHapus
  5. Alhamdulillah saya dpt ilmu baru, terimakasih sudah berbagi ilmu semoga tetap berkarya

    BalasHapus
  6. Alhamdulillah.... Makasih ilmu yang dapat dilihat cuma2, semoga bermanfaat...

    BalasHapus
  7. terima kasih kepada pemakalah yang telah membagikan ilmunya. penjelasanya sangat mudah untuk dipahami dan menambah pengetahuan saya

    BalasHapus
  8. pengetahuan tentang iad ibd isd telah dibahas disini, terimakasih ilmunya.

    BalasHapus
  9. Terimakasih bermanfaat sekali makalahnya.. sebaiknya dilengkapi krn tdk ada kesimpulannya

    BalasHapus
  10. Alhamdulillah, sudah bagus makalahnya. semoga bisa berkreatif lagi

    BalasHapus
  11. Alhamdulillah,,Senangnya setelah membaca isi dari makalah ini saya semakin termotivasi untuk bisa membuat karya semenarik ini dan semakin menambah wawasan pengetahuan saya mengenai keterkaitan manusia dengan kebudayaan .Makalah ini sangatlah menarik dan bahasanya juga sangat mudah difahami serta makalah ini juga bisa dijadikan bahan untuk referensi. Terima kasih sudah memberikan ilmu barunya semoga ilmunya bisa bermanfaat dan kelak bisa menciptakan karya - karya menarik lainnya... :) :)

    BalasHapus
  12. terima kasi banyak ya min. Makalah ini memang berguna sekali dan berfungsi bagi orang orang yang belum mengerti seperti saya , teruslah berkarya ya

    BalasHapus
  13. Makalahnya bagus, bisa buat pembelajaran kedepannya.

    BalasHapus
  14. Makalahnya bagus.bisa buat pembelajaran buat saya.

    BalasHapus
  15. Alhamdulillah dengan adanya makalah ini saya mendapat ilmu pengetahuan lebih jauh lagi

    BalasHapus
  16. Terima kasih sudah menyampaikan ilmu nya

    BalasHapus
  17. Alhamdulillah, semoga ilmunya bermanfaat ya kak

    BalasHapus
  18. Barrakallah ilmunya sangat bermanfaat

    BalasHapus
  19. Alhamdulillah terima kasih semoga bermanfaat dan barokah

    BalasHapus
  20. Makalahnya bagus semoga bermanfaat

    BalasHapus
  21. Alhamdulillah terimakasih sangat bermanfaat saudara

    BalasHapus
  22. alhamdulillah,, makalah ini sangat membantu dalam peluasan wawasan kami

    BalasHapus
  23. Wahhhh bermanfaat skali ilmunya. Terimakasih:))

    BalasHapus
  24. Mantap, makalah mudah dipahami, bahasa lugas, dan bisa menambah referensi baru

    BalasHapus
  25. Wah keren sekali bih buat nambah wawasan

    BalasHapus
  26. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  27. makalah sgt bermanfaat. karena makalh ini mnjelaskn manusia merupakan makhluk yang berbudaya, melalui akalnya manusia dapat mengembangkan kebudayaan. Begitu pula manusia hidup dan tergantung pada kebudayaan sebagai hasil ciptaannya. Kebudayaan juga memberikan aturan bagi manusia dalam mengolah lingkungan dengan teknologi hasil ciptaannya

    BalasHapus
  28. Sangatt mudah dipahami..
    Juga artikel ini menambah wawasan saya terimakasih min:)

    BalasHapus
  29. Sangat bermanfaat dan dapat di jadikan refrensi

    BalasHapus
  30. Alhamdulillah Makalah nya sangat bagus dan mudah dipahami.semoga bermanfaat...

    BalasHapus
  31. wah sangatt bermanfaat, saya jadi tau, terima kasih

    BalasHapus
  32. wahh bagus isi makalahnya, semoga bermanfaat yaa

    BalasHapus
  33. Alhamdulillah semoga bisa membuat hal bermanfaat lainnya, sukses selaluu

    BalasHapus
  34. alhamdulillah berkat blog ini saya paham

    BalasHapus
  35. Makasiih banyak atas wawasan barunya.

    BalasHapus
  36. sangat bermanfaat sekali untuk refrensi saya, terimakasih, semoga bisa mengembangkan tulisan yang lebih banyak dan bermanfaat untuk khalayak pembaca aamiin

    BalasHapus
  37. Ajiib banget isinya, kapan-kapan boleh ga request ?

    BalasHapus
  38. Alhamdulillah pengetahuan jadi semakin bertambah semoga bisa bermanfaat untuk orang lain

    BalasHapus
  39. Alhamdulillah sangat menambah wawasan saya, terus berkarya, semangat:)

    BalasHapus
  40. Isinyaa bermanfaat, berbobot jugaa bisa menambah wawasan. Terus semangat berkarya

    BalasHapus
  41. Good,, semangat dan sukses yaa,,, makalahnya sudah cukup baik...

    BalasHapus
  42. Alhamdulillah, semoga bermanfaat bagi kita semua amin...

    BalasHapus
  43. Isi materinnya sangat bagus, mudah2an kedepannya jauh lebih baik lagi, sukses selalu buat penulis.

    BalasHapus
  44. Makalahnya bagus, meskipun daftar pustakanya cuma 2. Yang penting bisa bermanfaat untuk semua yg membaca😊

    BalasHapus
  45. Isi makalahnya bagus , mudah di pahami , menambah wawasan ni

    BalasHapus
  46. Alhamdulillah, barakallah bisa menambah wawasan lagi semoga bermanfaat

    BalasHapus
  47. Terimakasih semoga bermanfaat

    BalasHapus
  48. Alhamdulillah dengan blog diatas saya bisa faham materi nya

    BalasHapus
  49. Semoga bisa bermanfaat bagi yang melihat materinya mudah di fahami

    BalasHapus

Posting Komentar